“Berbeda-beda tetapi tetap satu”
Frasa “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Kalimat ini diambil dari kitab Sutasoma, karya Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit abad ke-14.
Kitab Sutasoma mengisahkan toleransi antarumat beragama (Hindu dan Buddha) di masa itu. Kalimat lengkapnya:
“Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa.”
(Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.)
Sebagai semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika menjadi fondasi persatuan dalam keberagaman Indonesia yang terdiri atas:
Nilai ini mengajarkan kita untuk:
Harmoni sosial dapat dibangun melalui:
Gotong royong adalah wujud nyata dari sila ke-5 Pancasila: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Prinsip ini menolak individualisme ekstrem dan mendorong:
Berikut video pembelajaran tentang Bhinneka Tunggal Ika: